Minggu, 09 Oktober 2022

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 2.3

 

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGU MODUL 2.3


Kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai post tes modul 2

1. Facts (Peristiwa)

Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3.a.3 mulai dari diri diana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervise di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapanpemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan ibu widiarti Rusmini melakukakan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Ibu Riry, saya, dan Ibu Widiarti Rusmini, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Bapak Alex Herry Assa membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Dan kemudian saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya dapati dan bagaimana dengan rencana dan Langkah ke depannya yang akan saya lakukan, selanjutnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervise akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada hari jumat, 7 oktober saya melakukan test akhir modul 2

2. Feelings (Perasaan)

Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.

3. Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, ada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2:yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat

4. Future (Penerapan)

Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.



KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 

A.     Pentingnya Proses Coaching  dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, berketuhanan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan juga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, semua upaya yang dilakukan dalam konteks pendidikan bukan hanya harus direncanakan dengan cermat, tetapi juga harus ditujukan untuk pengembangan potensi peserta didik. 

Standar proses telah secara jelas mendeskripsikan kriteria pelaksanaan pembelajaran yang harus dipertimbangkan oleh pendidik dan sekolah beserta prinsip-prinsipnya. Semua praktik pembelajaran tersebut harus merupakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik, yaitu pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam, pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik serta pembelajaran yang dapat membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan peserta didik dalam mencari solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dengan berdasarkan prinsip coaching.

B.     Pengertian Coaching dan Relevasinya dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee. Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif, Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman.

Hal ini sejalan dengan pemikiran sang Maestro Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (KHD) dimana menurutnya pendidikan itu adalah ada proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

C.     Peran Guru dalam Coaching

Peran Guru sebagai coaching hendaknya tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif, menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik dengan kekuatan yang dimilikinya.

D.    Konektivitas Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional.

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan peserta didik dan sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, pendidik dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran agar dapat ke semua tahapan proses tersebut, sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar murid-murid dan membantu kesuksesan belajar mereka. Selain itu, proses pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian yang baik.

          Selain mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang dapat merespon kebutuhan belajar murid agar murid dapat mencapai tujuan pembelajaran melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai pendidik tentu harus berupaya menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik.

Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) ini semakin mendesak untuk kita terapkan dan praktikkan karena pentingnya perkembangan murid secara holistik, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Sebagai pendidik yang mendampingi peserta didik di sekolah sepanjang hari, maka sudah sepatutnya pendidik memikirkan bagaimana menuntun peserta didik untuk mencapai kodratnya, bagaimana membimbing peserta didik agar dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya dengan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Di sinilah letak urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik.

         Pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Sebagai seorang pendidik tentu harus mampu membawa komunikasi yang empati dan memberdayakan diri sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan strategi yang mampu menggerakkan komunitas sekolah pada ekosistem belajar. perubahan strategi yang sejalan dengan semangat merdeka belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum yang bermakna dan kualitas sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid di sekolah.

Seorang pendidik harus memahami konsep yang sejalan dengan pemikiran filosofis pendidikan Ki hajar Dewantara dan perkembangan pendidikan abad ke 21. Pendidik harus menguatkan paradigma berpikir among, prinsip coaching, kompetensi inti coating, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Dengan mempelajari dan mempraktikkan beberapa latihan percakapan berbasis coaching baik terhadap murid maupun rekan sejawat dapat menguatkan perjalanan pembelajaran pendidik menjadi seorang pemimpin pembelajaran. 

          Selama menjadi pendidik tentu dalam proses pembelajaran pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik sebagaimana tertuang dalam standar proses pada standar nasional pendidikan.  Supervisi akademik yang dijalankan semestinya harus benar-benar berfokus pada proses pembelajaran. Selain, itu, supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri seorang pendidik di sekolah. 

          Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri pendidik. Pemimpin sekolah dapat mendorong warga sekolahnya untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakkan pada murid adalah  pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.


Senin, 29 Agustus 2022

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA

 

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA

JUDUL MODUL : Menanamkan dan Membiasakan Budaya Positif dengan Kesepakatan Kelas, dalam Proses pembelajaran dan Kegiatan Ekstrakurikuler

NAMA PESERTA : Edison Siahaan,S,Pd

CGP angkatan ke 5

A. Latar Belakang

Sekolah idaman adalah sekolah yang mampu menciptakan kenyamanan dan memberikan kemerdekaan untuk hidup dan berkembang bagi peserta didik sesuai kodratnya. Sekolah tersebut terhindar dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan terhadap warga sekolah khususnya peserta didik. Sekolah tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan suasana yang penuh dengan keharmonisan dan pembiasaan yang positif.

Faktanya kebanyakan lingkungan sekolah belum memberikan keleluasaan kepada peserta didik. Peserta didik masih terkekang dengan budaya negatif. Peserta didik menghindari pelanggaran karena takut dikucilkan. Peserta didik mentaati peraturan karena takut dihukum atau menerima konsekuensi yang berat dan dapat menurunkan nama baiknya. Akibatnya peserta didik melakukan kebaikan hanya pada saat di sekolah atau hanya pada saat di depan orang yang lain seperti di depan anggota OSIS di depan Guru dan yang lainnya. Ketaatan pada aturan yang mereka lakukan tidak berasal dari kesadaran dan lubuk hati. Keteraturan tersebut bukanlah sebuah kebiasaan atas kesadaran tetapi karena ketakutan atau untuk mencari perhatian.

Sekolah seyogianya berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya khususnya peserta didik melakukan budaya atau kebiasaan yang positif. Budaya yang mengakar kuat dan menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu dan sadar oleh setiap warga sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pembiasaan positif tersebut. Pembiasaan positif yang merupakan budaya positif akan menjadi budaya sekolah.

Budaya yang dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kekhasan dari sekolah tersebut. Budaya tersebut harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah, baik dalam pra pembelajaran, proses pembelajaran ataupun di luar kelas seperti dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pertanyaannya adalah bagaimana budaya positif dapat tumbuh dan tertanam dalam proses pembelajaran, bagaimana budaya positif dapat terbiasa dilakukan dalam kegiatan ekastrakurikuler. Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap peserta didik, maka  profil pelajar Pancasila akan tercipta.

 

B. Tujuan

1. Menumbuhkan budaya positif dengan kesepakatan kelas.

2. Menumbuhkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila pada diri peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

3. Mengintegrasikan dan membiasakan peserta didik untuk menanamkan nilai-nilai profil pelajar pancasila dalam kegiatan ekstrakurukuler.

C. Tolak Ukur

1. Peserta didik mampu membuat kesepakatan kelas yang dipasang dinding kelas.

2. Peserta dapat mengaplikasikan nilai-nilai profil pelajar Pancasila secara sadar dan kontinyu dalam proses belajar

3. Peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan sadar mengamalkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila.

D. Linimasa tindakan yang dilakukan

KEGIATAN

MINGGU KE

1

2

3

4

(a)       Membuat perencanaan aksi nyata dan mengkomunikasikannya kepada kepala sekolah.

V

 

 

 

(b)      Melakukan revisi perencanaan jika diperlukan sebagai hasil konsultasi dengan kepala sekolah.

V

 

 

 

(c)       Mengimbaskan materi budaya positif dan mengkomunikasikan tindakan aksi nyata kepada walikelas  (utama) dan Guru mata pelajaran

V

 

 

 

(d)      Melakukan Kegiatan Pembentukan Keyakinan Kelas

V

 

 

 

(e)       Mendokumentasikan Setiap Kegiatan

V

V

V

V

(f)       Melakukan kolaborasi dan sharing dengan walikelas dan Guru mata pelajaran  berkaitan strategi membangun budaya positif di kelas.

 

V

 

 

(g)       Mengkomunikasikan dan berkolaborasi dengan orang tua berkaitan penerapan disiplin positif di sekolah.

 

V

 

 

(h)      Melakukan Layanan Restitusi

 

V

V

 

(i)        Penerapan Disiplin Positif

 

V

V

V

(j)        Mengevaluasi dan refleksi kegiatan tindakan aksi nyata dalam rangka membudayakan kebiasaan positif di sekolah.

 

 

 

V

(j)        Melaporkan hasil kegiatan tindakan aksi nyata kepada kepala sekolah

 

 

 

V

 

E. Dukungan yang dibutuhkan

  • Kepala Sekolah dan wali kelas.
  • Orang tua dan
  • Peserta didik.
  • Sarana dan prasarana sekolah yang memadai. 
  • Media yang diperlukan

Seluruh warga sekolah berkolaborasi, bergotong royong dan bergerak bersinergis dalam menciptakan serta membiasakan budaya positif di sekolah.

6

Senin, 04 Juli 2022

PROGRAM BINTANG PELAJAR

 

Program Bintang Pelajar

 

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti bintang pelajar adalah adisiswa. (siswa yang unggul),  Arti lainnya dari bintang pelajar adalah bintang kelas.atau Pelajar teladan

Bisa dikatakan, bintang pelajar adalah siswa yang menjadi teladan dalam banyak hal, siswa yang terus mau mengembangkan diri dalam pemahaman ilmu pengetahuan, keterampilan jurusannya, atau bisa disebut siswa yang paling berprestasi di sekolah.

Dalam mengembangkan potensi anak didik, saya berpikir untuk melakukan suatu program, dimana melalui program ini siswa akan memiliki kesempatan untuk menggali potensi mereka, baik dibidang ilmu pengetahuan, seni, o;ah raga atau yang lainnya.

Pada Tahun 2016, ide program ini sudah saya lakukan ketika kami berpikir apakah yang dapat menjangkau siswa SMP  bergabung di Sekolah kami. Ide inilah yang saya munculkan kepada Kepala sekolah (Bapak Saut Siboro), pada saat itu Bapak Saut Siboro. Ide ini disambut dengan baik, dalam jangka waktu 3 bulan kurang lebih, kami panitia bekerja keras untuk mempersiapkan acara Bintang pelajar tingkat SMP.berikut 5 besar yang masuk Nominasi Lomba Bintang Pelajar dari SMP yang berada pada 2 kecamatan dolok panribuan dan jorlang hataran dan sekitarnya.



Untuk kegiatan ini yang menjadi juara satu adalah



Ketika saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak angkatan 5, menurut saya program ini sangat potensial untuk kembali saya lakukan untuk memotivasi siswa dalam menggali potensi mereka, juga melatih literasi, numerasi siswa.

Tanggal 20 sampai 24 Juni 2022, seizin kepala sekolah, saya berkolaborasi dengan pengurus osis dan juga rekan kerja melakukan program bintang pelajar mengakhiri semester genap di tahun pelajaran 2021/2022. Bersama pengurus OSIS kami memulai melakuksan sleksi awal, memberi link seleksi online kepada seluruh siswa SMK NEGERI 1 JORLANG HATARAN yang mau mengikutinya. Dari kegiatan ini, kami mengambil 10 besar peserta bintang pelajar. Untuk tahap dua kembali kami melakukan sleksi untuk 10 besar dan siswa yang meraih juara kelas 1,2 dan 3. Kembali kami berikan link sleksi tahap 2. Dari sleksi ke 2 ini kami juga mengambil 10 besar nilai yang terbaik, tetapi kali ini, 10 besar nilai terbaik harus memperanggungjawabkan nilainya dengan cara menjelaskan setiap jawaban mereka. Ternyata ditahap ini, ada pembelajaran yang kami dapatkan. Yaitu nilai yang diperoleh tidak semua siswa yang mampu menjelaskan jawaban mereka. Ada 4 siswa mengundurkan diri. Tahap kali ini, kami membebaskan siswa yang masuk 10 besar untuk maju atau mundur. Dan kami juga memberikan kesempatan yang tidak masuk 10 besar untuk memberikan penjelasan untuk setiap soal yang diujikan. Ternyata ada 4 orang yang siap menggantikan mereka yang tidak bersedia lagi. Jadi tetap ada 10 siswa calon peserta bintang pelajar yang terpilih. Untuk tahap terakhr (tahap 3 ) kami tetap memberikan link selesksi tahap 3. Setelah kegiatan tes sleksi,selain mereka harus mempertanggungjawabkan setiap jawaban mereka, kami juga memberikan tugas untuk memahami tentang apa itu Profil Pelajar Pancasila dan mengenal siapa tokoh Ki hajar Dewantara. Dalam Proses memahami Profil Pelajar Pancasila dan memahami siapa tokoh Ki hajar Dewantara, ada 3 siswa mengundurkan diri karena mereka tidak siap untuk menjalani proses ditahap 3. Kami memberikan motivasi agar mereka tetap mau menjalaninya, tetapi mereka tetap tidak bersedia mengikutinya ditahap 3. Berikut nama siswa yang bertahan ditahap 3 adalah

Peringkat

NAMA PESERTA

Kelas

1

Debora Ayu Siska Sigalingging

XI TKKR

2

Nico Aya Prapanca Silalahi

X TBSM

3

Sesylia Manik

XI AKL

4

laura H Nainggolan

X AKL

5

Shinta Melinda Purba

XI BDP

6

Flora Enjelina Sinaga

XI BDP

7

Mimonisa Timothea Sinaga

X AKL

Setelah melewati seleksi tahap 3 dimana peserta juga melatih kreativitas mereka dengan lagu Profil Pelajar Pancasila, terpilihlah tiga besar yang mendapatkan Piala Kejuaraan

Terimakasih atas semangat siswa kami yang mau menyelesaikan tahapan untuk meraih bintang pelajar, meskipun dari standar sebagai bintang masih sangat kurang, tetapi awal yang baik yang bisa kami lakukan. Terimakasih buat Masta dan Firman yang sudah setia menemani dalam program Pemilihan Bintang Pelajar.

Setelah terpilih Juara satu, dua dan tiga, apakah Program Bintang pelajar di SMK Negeri 1 Jorlang Hataran berakhir? Program Bintang Pelajar bukan berakhir, tetapi mulai bertumbuh. Dari 7 peserta Bintang pelajar akan menjadi pengurus Bintang pelajar di SMK Negeri 1 Jorlang Hataran, dengan struktur kepengurusan sebagai berikut: Untuk saat ini, Ketua adalah Nico Aya Prapanca Silalahi, wakil satu debora dan flora sebagai wakil dua,sementara untuk Sekretaris adalah Laura dan shinta sebagai wakilnya, serta sebagai bendahara Mimonisa dengan wakilnya Sesylia.

Apakah yang menjadi program awal Bintang Pelajar di Tahun Pelajaran 2022/2023?

Mereka menyepakati untuk membuat program Menumbuhkembangkan minat baca para siswa dengan menetapkan  1. Topik yang akan dibaca oleh siswa setiap minggu 2. Membagikan topik yang akan dibaca kepada seluruh siswa. 3. Membuat ringkasan pada satu buku khusus literasi.  4. Membuat soal untuk kuis literasi.  5. Menyiapkan kuis dalam aplikasi quizizi. 6. Menetapkan kapan akan melakukan kuis 7. Pelaskanaan kuis.8. Mengundang pemenang kuis untuk konfirmasi  9 pengumumuan pemenang kuis dan pemberian hadia. 10 evaluasi program dan menyusun program berikutnya. Inilah Hal yang akan mereka lakukan. Semoga program ini berdampak baik kepada siswa, minat baca sebagai ciri khas seorang siswa kembali dalam keadaan baik.