Tampilkan postingan dengan label PGP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PGP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2022

Modul 3.2.a.9 Koneksi Antar Materi – Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

 Modul 3.2.a.9 Koneksi Antar Materi –

Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

1.  Kesimpulan Terkait Materi Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Menjadi seorang pemimpin harus mampu meningkatkan rasa kepekaan terhadap kondisi dan situasi yang ada di sekolah, karena berdasarkan inilah kita akan mampu melakukan tindakan yang tepat untuk kemajuan sekolah

 

Dan kolaborasi harus dilakukan untuk mewujudkannya kita tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu bergotong royong memanfaatkan segala potensi yang ada di sekolah. Melalui sebuah aksi nyata dari tindakan yang terkecil sampai hal yang lebih kompleks.

 

Pendekatan Komunitas Berbasis Aset ini sangat cocok di terapkan di sekolah, karena ternyata banyak sekali aset yang dapat dijadikan kekuatan untuk menciptakan sekolah yang lebih baik, adapun 7 aset yang ada sebagai berikut:

Modal Manusia

Modal Sosial

Modal Fisik

Modal Lingkungan Atau Alam

Modal Finansial

Modal Politik

Modal Agama dan Budaya

 

Kita harus fokus pada aset dan kekuatan, Membayangkan masa depan, Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya dalam hal ini adalah aset

 

Pemimpin Pembelajaran harus bisa mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna, dan mendorong kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan harapan hasil akan lebih berkelanjutan

 

 

2.    Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. 

 

Sekolah  sebagai ekosistem yang saling berkaitan antara unsur biotik dan abiotik. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Yang termasuk dalam factor biotik adalah pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, staf/ Tenaga Kependidikan, Murid, Orang Tua, dan Masyarakat sekitar sekolah.

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya Keuangan, dan Sarana dan prasarana

Sebagai pemimpin pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya yang harus dilakukan dengan ekosistem sekolah adalah dengan mengembangkan asset-aset tersebut berdasarkan kekuatan dan kelebihannya

a. Modal/aset Manusia

1) Pengawas sekolah

Pengawas sekolah sebagai aset manusia karena selalu memberikan motivasi, melakukan refleksi, Berdiskusi terkait dengan hasil refleksi, dan memonitoring Tindak Lanjut yang dilakukan bersama

2) Kepala Sekolah
Tugas kepala sekolah sebagai Fasilitator,Memberi dukungan penuh, dan sebagai Motivator dan memberdayakan segala sumber daya yang ada secara maximal

3). Guru
Guru 99 % berijazah S-1, 90 % bersertifikat pendidik, Memiliki keperpihakan pada murid, dan 90 % selalu update pengetahuan dan keterampilan teknologi dalam mendidik siswa . guru dapat melakukan pengembangan diri melalui pelatihan

4) Tenaga Non Kependidikan
Tenaga Non kependidikan Cekatan dalam memberikan layanan public, Pengarsipan data murid, data guru dan mendokumentasikan segala kegiatan sekolah yang akan berguna dalam pengambilan keputusan

5) Orang tua
Orang tua Apresiatif dan inisiatif kolaborasi dengan pihak sekolah, dan  Mendukung dan memfasilitasi kebutuhan murid, bahkan bagi orangtua yang memilki potensi dalam peningkatan pembelajaran disekolah dapat diberdayakan menjadi guru tamu dalam bernagai kegiatan

6) Komite
Komite selalu Apresiatif dan inisiatif kolaborasi dengan pihak sekolah, Mendukung dan membentuk perwakilan  orang tua untuk terus mendukung kegiatan kegiatan yang berdampak bagi masyarakat

7) Murid
Murid Semangat dalam belajar sesuai dengan bakat dan gaya belajarnya, dan Memiliki impian sesuai profil pelajar Pancasila dapat diberdayakan sesuai  kodrat mereka masing masing. Bakat dan minat murid yang beragam tentunya menjadi asset yang dapat digunakan untuk mencapai visi dan misi sekolah dan mengwmbangkan serta memajukan pendidikan ditingkat sekolah, kecamatan, kabupaten dan bahkan tingkat nasional

b. Modal Sosial

Dalam mendukung potensi, Kesehatan, dan wawasan siswa ,guru memaksimalkan aset berupa Persatuan  orang tua, kerjasama dengan Koramil, Puskesmas, Kejaksaan, Kepolisian, Organisasi Keagamaan, BNN, Bimbel, dan Lembaga Pendidikan ( SMA/SMK)

c. Modal Fisik

Berikut modal fisik yang memfasilitasi kebutuhan siswa berupa Ruang Kelas, Lab IPA, Ruang Guru, Kantin
Ruang Kepala sekolah, Aula, Ruang TU, Tempat parker, Ruang OSIS, Ruang Pramuka, UKS, Ruang Musik, Toilet, uang BK, Masjid, Lab Komputer, dan Perpustakaan

d. Modal Lingkungan/alam

Modal lingkungan alam yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar murid antara lain Perkebunan, Tanaman obat, Wisata Lingkungan,dll

e. Modal Finansial

Modal Finansial diantaranya berasal dari Dana Bos, Dana Sosial, Dana Insidental, dan Dana Wirausaha (Bisnis Center)

f. Modal Politik

Modal politik diantaranya dari Puskesmas, Kepolisian, Koramil, BNN, Organisasi Keagamaan, dan Lembaga Pendidikan setingkat diatasnya

Dengan dukungan 7 aset , menjadikan pembelajaran murid berkualitas dan berkelanjutan

 

3.    Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

 

A.  Modul 1.1 Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Modul 1.1 tentang sumber daya manusia yaitu murid itu sendiri, sebagai pemimpin pembelajaran maka kita harus mendidik siswa semaksimal mungkin sesuai filosofi Ki Hadjar agar siswa bisa berkembang sesuai kodratnya. Menurut Ki Hadjar Dewantara, bahwa maksud pendidikan itu adalah kegiatan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Siswa memiliki 2 kodrat alam dan kodrat zamannya, sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa mengelola aset sumber daya murid dengan pola asah asih asuh dengan menuntun mereka agar bisa melejitkan potensi siswa sehingga bisa mencapai kebahagiaan yang setingi-tingginya. Modul 1.1 berfokus pada anak-anak, sehingga guru sebagai petani, bisa menuntun kodrat anak agar bisa tumbuh sesuai kodratnya dengan mengelola asset yang ada.

B. Modul 1.2  Nilai dan peran Guru Penggerak

Modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak, juga membahas tentang sumber daya manusia yaitu dari segi guru, dimana untuk bisa mengelola potensis siswa, maka seorang gru harus memiliki kapasitas, komepetensi dan dasar nilai dalam mengelola asset yang ada. Nilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam pengelolaan asset sekolah terutama untuk mewujudka profil pelajar pancasila. Juga ada cara kerja bagaimana memkasimalkan nilai-nilai karakter anak agar bis aberkembang dengan baik. Begitu juga dengan peran sebagai guru penggerak yaitu pemimpin pembelajaran, pemimpin pengembangan sekolah, pemimpin manajemen sekolah. Dalam modul ini juga dibahas bagaimana pengembangan karakter pada anak, bagaimana karakter bertumbuh atau pengelolaan sumber daya murid kita

C.  Modul 1.3 Tentang Visi guru Penggerak

Modul ini berbicara bagaimana mengelola asset atau sumber daya, pendekatan apa yang kita gunakan untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana kita mencapai perubahan atau visi yang kita inginkan sehingga modul 3.2 ini kembali memperkuat modul 1.3  tentang pendekatan inkuiri Apresiatif model BAGJA dalam melakukan perubahan atau pengembangan sekolah. Mellaui pendekatan IA, Model BAGJA maka sebagai pemimpin pembelajaran kita bisa melakukan perubahan yang berbasis asset atau sumber daya untuk menuju perubahan positif. BAGJA memiliki tahapan sebagai berikut:

 

D. Modul 1.4 Buaday Positif

tentang budaya positif yaitu berupa lingkungan yang mendukung perkembangan siswa, Sebagai petani, maka kita akan memaksimalkan sumber daya lingkungan yang positif agar anak anak bertumbuh sesuai kodratnya. Sebagai pemimpin pemelajaran adalah abgaiamana mengelola budaya positif , mengelola lingkungan baik biotik maupun abiotic yang mendukung perkembangan karakter baik pada siswa sehingga tujuan pendidikan seperti yang diharapkan terwujud yaitu menjadikan siswa selamat dan bahagia

E. Modul 2.1 Tentang pembelajaran berdiferensiasi

Dimana sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa setiap anak mempunyai  kodrat berbeda sehingga dibutuhkan pembelajaran diferensiasi sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam tersebut. Untuk bisa melakukan perubahan dalam kelas dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi maka seorang pemimpin pembelajaran harus bisa memetakan asset atau sumber daya dan juga memanfaatkan asset atau sumber daya yang ada, baik itu sumber daya manusia komponen biotik  maupun sumber daya yang berupa komponen abiotik, yaitu  sarana prasarana dan keuangan untuk bisa menyusun dan mendesain strategi pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dan tepat sehingga bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa

Setiap anak memiliki kodrat yang berbeda baik dari segi minat, profil belajar, maupun kesiapannya sehingga pembelajaran berdiferensiasi sebagai sebuah strategi untuk menuntun anak sesuai kekuatan kodratnya.

F. Modul 2.2 Tentang pembelajaran sosial emosional

Modul yang membahas cara atau strategi sebagai pemimpin pembelajaran untuk  menuntun anak-anak untuk mewujudkan siswa yang selamat dan bahagia. Pendidikan ataupun pembelajaran bukan semata mata berorientasi pada aspek kognitif tapi bagaimana bisa mengembangkan kecerdasan sosial emosional pada diri anak agar anak bahagia.Tehnik mindfulness bisa dijadikan strategi atau cara mengelola sumber daya manusia yang kita miliki yaitu murid sehingga potensi kecerdasan sosial emosional anak bisa berkembang optimal.

G. Modul 2.3 Coaching

Modul 2.3 tentang coaching merupakan sebuah tehnik atau strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk menuntun, mendampingi anak, untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Coaching memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada diri anak sehingga metakognisinya meningkat dan berpikir kritis dan mencapai potensi diri yang optimal.

H. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin Pembelajaran

Dalam modul ini seorang pemimpin pembelajaran, dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang beretika dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis 4 paradigma, 3 resolusi berpikir dan 9 langkah pengujian keputusan. Prinsip pengambilan Keputusan ini sangat penting apalagi yang berkaitan dengan pengelolaan asset atau sumber daya sekolah untuk kepentingan murid.

 

 

 

 

4.    Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

 

a. Sebelum

Sebelum mengikuti pelatihan modul 3.2 , dalam kegiatan saya sering berfokus pada kekurangan/masalah, tanpa melihat potensi dan kekuatan yang mendukung, membuat kegiatan saya dan komunitas menghasilkan kegiatan yang kurang maksimal dan memerlukan waktu lama.

b. Sesudah

Sesudah mempelajari modul 3.2 Fokus pada aset dan kekuatan dengan
Membayangkan masa depan tentang kesuksesan yang akan diraih dan berupaya memaksimalkan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut melalui cara mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan), dan merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

c. pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini

setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini,

1.    Cara berpikir saya berubah, saya belajar melihat di dalam sebuah kelemahan ada kekuatan, dan didalam suatu masalah adalah peluang yang dapat dikerjakan untuk diberdayakan dalam mencapai sesuatu.

2.    Belajar untuk terus menggali kekuatan apa saja yang dimiliki sekolah untuk dapat diberdayakan untuk mencapai suatu tujuan

3.    Belajar untuk mengkomunikasikan sumberdaya yang dimilki sekolah kepada warga sekolah saat mengerjakan suatu program sekolah, dan tentunya akan berkolaborasi dalam mengerjakan sebuah program

Sabtu, 22 Oktober 2022

DEMONTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1

 1.   KASUS PERTAMA






  Dari Kepala sekolah SMK NEGERI 1 JORLANG HATARAN Kabupaten Simalungun antara lain :

Pada bulan Oktober 2022, SMK negeri 1 Jorlang Hataran akan kembali mempersiapkan sekolah untuk diakreditasi. Ibu Rosmely Damanik,S.Pd,M.Si sebagai sekolah melakukan rapat bersama dengan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Hasil rapat adalah masing masing pendidik dan tenaga pendidikan mempersiapkan bagiannya. Khusus untuk team manajemen sekolah akan kembali menyusun dokumen kegiatan sekolah yang selama ini akan dikerjakan. Kepala sekolah hampir tiap hari mengecek persiapan yang dilakukan termasuk upload dokumen pada link yang telah disediakan. Pada tanggal 19 oktober 2022 kepala sekolah harus berangkat keluar kota untuk mengikuti rapat koordinasi ditingkat propinsi, kegiatan berlangsung selama 2 hari. Pada tanggal 20 oktober 2022, setelah kegiatan rapat selesai,  ibu kepala sekolah mendapat pemberitahuan melalui surat, bahwa kegiatan Visitas team akreditasi akan dilakukan pada hari Jumat, 21 oktober 2022, sementara dalam waktu yang sama ibu kepala sekolah juga harus hadir dalam pertemuan kerjasama dengan perusahaan di Semangke. Dua kegiatan yang sama sama penting untuk perkembangan sekolah. Apakah keputusan yang akan diambil oleh kepala sekolah? Kepala sekolah melakukan pertemuan secara daring  bersama dengan team manajement untuk membahas  persiapan visitas besok. Dan dalam pertemuan tersebut. Ibu kepala sekolah juga menyampaikan dilema yang sedang dihadapi tentang 2 kegiatan yang harus dihadiri pada waktu bersamaan, kepala sekolah meminta pendapat dari team. Ibu kepala sekolah melakukan komunikasi kepada pihak perusahaan untuk bermohon agar waktu melakukan perjanjian kerjasama diundurkan tanggal pertemuannya. Tetapi pihak perusahaan tetap mengatakan jadwal tidak akan lagi dirubah. Dan pihak perusahaan mengatakan agar mengutus perwakilan dari kepala sekolah yang menghadirinya.setelah komunikasi yang dilakukan, ibu kepala sekolah mengambil keputusan untuk hadir disekolah dalam kegiatan visitas akreditasi sekolah dan mengutus wakil kepala sekolah bagian DUDI/HUMAS untuk menghadiri pertemuan melakukan kerjasama dengan Pihak Perusahaan. Dari kasus yang terjadi,  ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan yaitu kepala sekolah harus hadir dalam pertemuan pembuatan kerjsama dengan perusahaan dan kepala sekolah harus siap dalam visitas akreditasi sekolah. Dari kasus ini, ibu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan adalah berdasarkan skala prioritas dan kepentingan jangka panjang. Dari kasus kasus sebelumnya kepala sekolah juga melakukan pengambilan keputusan berdasarkan nilai nilai kebajikan.

 

2.   Kasus kedua



Dari Pimpinan/Pengelola sekolah EPIC Kids School and Therapy sekolah berkebutuhan khusus di kota Pematang Siantar  Ruth Maya Tamba, M.Psi., Psikolog

Format pendidikan pada sekolah EPIC KidsSchool and Therapy sekolah berkebutuhan khusus sedikit berbeda dengan format pendidikan secara sekolah biasanya.

Struktur sekolah yang ditetapkan adalah sekolah dipimpin oleh pengelola, koordinator guru kemudian guru serta asisten guru. Jumlah kelas ada tiga yaitu kelas kemandirian, kelas akademik/ pra akademik dan  kelas sensori prosesing. Tiap kelas berdiri sendiri dan masing masing  kelas dikelola guru dan asisten. Sistem belajarnya adalah moving kelas.Kegiatan pembelajaran dilakukan dari jam 08.00 WIB sampai 12.00 WIB. Setalah kegiatan sekolah berakhir, setiap guru melakukan persiapan belajar mengajar untuk ke esokan harinya. Jam kerja guru dan asisten dimulai jam 08.00 WIB sampai jam !4.00 WIB. Guru mempersiapakn materi ajar selama 2 jam untuk kegiatan esok harinya. Satu ketika, pimpinan melihat kasus dimana koordinator guru pulang sebelum jam kerja. Selama ini kekeluargaan sangat terbina disekolah ini,  ada saling percaya antara pimpinan kepada guru. koordinator guru mulai tdk disiplin pada jam kerja yang telah ditetapkan. Sepengatuan pimpinan , Koordinator guru memang memilki usaha seperti Bimbel kecil. Tentunya jika kasus ini dibiarkan,

Tentu hal ini akan berdampak tidak baik kepada peserta didik, dan aturan yang ditetapkanpun serta tanggungjawab sebagai koordinator juga tidak dilaksanakan dengan baik. Sebagai pimpinan, koordinator dipanggil untuk melakukan komunikasi yang baik, agar jam kerja tetap dilaksankan dan tanggung jawab sebagai koordinator dilakukan dengan baik. Setelah  pertemuan yang telah dilakukan, koordinator kembali mengerjakan tugas dengan baik dan bertanggungjawab. Dalam kasus ini faktor faktor yang dilakukan dalam pengambilan keputusan adalah dengan melakukan pendekatan pribadi dan mengingatkan aturan kerja atau ketetapan yang telah disepakati.

Kasus lain yang terjadi adalah asisten guru sedang kuliah. Dan sering meminta izin pada jam kerja untuk bertemu dengan dosen.Tentu akan merugikan siswa jika kondisi ini dibiarkan. Langka yang dilakukan adalah melakukan pendekatan pribadi dan juga menegaskan bahwa jam kerja tetap harus ditaati dan diharapkan melakukan kegiatan pertemuan dengan dosen setelah jam kerja berakhir.

ANALISIS DARI HASIL WAWANCARA :

1.Hal hal yang menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut, pertanyaan penting mengganjall apa yang masih ada dari hasil wawancara bila dibandingkan dengan hal hal yang anda pelajari seperti 4 pradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian apa yang anda lakukan?

hal hal yang menarik antara lain :

a. pengambilan keputusan kepala sekolah SMK NEGERI 1 JORLANG HATARAN adalah  dilakukan dengan  mengutamakan kepentingan sekolah dan khususnya kepentingan peserta didik, jika dilihat dari DARI PRADIGMA DILEMA ETIKA ADALAH JANGKA PENDEK LAWAN JANGKA PANJANG, karena untuk akreditasi untuk kepentingan sekolah selama 5 tahun sedangkan perjanjian kerja hanya untuk satu tahun, dan jika dibatalkan dapat digantikan dengan perusahaan lain sedangkan  untuk kepala sekolah EPIC KidsSchool and Therapy sekolah keputusan yang diambil juga tetap berpihak pada murid, jika dilihat dari PRADIGMA DILEMA ETIKA ADALAH RASA KEADILAN LAWAN RASA KASIHAN. keduanya telah menerapkan prinsip dalam pengambilan keputusan, berpihak pada murid, berdasarkan nilai nilai kebajikan dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan

b. dalam pengambilan keputusan, tentu  tidak terlepas dari dampak negatif, misalkan untuk kepala SMKNEGERI 1 JORLANG HATARAN, kemungkinan rasa percaya pihak perusahaan berkurang karena pertemuan diwakilkan, sedangkan untuk EPIC KidsSchool and Therapy sekolah, dengan menegakkan aturan sekolah,, kemungkinan ada guru yang merasa tersinggung. tetapi kedua pemimpin melakukan keputusan karena memperhatikan prioritas kebutuhan untuk sekolah.

dapat saya simpulkan ke 2 kepala sekolah dalam pengambilan keputusan sudan menerapkan prinsip pengambilan keputusan yaitu keputusan yang diambil berbasis akhir akhir


2. Bagaimana hasil wawancara ke dua pemompin yang anda wawancarai, adakah persamaan atau perbedaan  dan adakah yang meninjol dari salah satu pemimpin tersebut, mengapa, apa yang membedakannya.

persemaannya adalah ke dua kepala sekolah telah menerapkan prinsip pengambilan keputusan yaitu berpihak pada murid, berdasarkan nilai nilai kebajikan dan bertanggungjawab dengan keputusan yang diambil. persamaan lainnya adalah melakukan komunikasi yang baik sebelum mengambil keputusan

perbedaannya adalah dari kasus yang dihadapi, berbeda Pradigma dilema etika, kepala sekolah SMK NEGERI 1 JORLANG HATAN  jangka pendeng lawan jangka panjang, sedangkan kepala sekolah EPIC KidsSchool and Therapy sekolah adalah rasa keadilan lawan rasa kasihan.

sesuai analisis yang saya lakukan kedua kepala sekolah telah melakukan analisis masalah dengan mengutamakan kepentingan sekolah khususnya kepentingan siswa

3. apa rencanakedepan para pemimpin dalam menjalani dalam pengambilan keputusan yang mengandung dilema etika, bagaimana mereka dapat mengukur efektifitas pengambilan keputusan mereka?

mereka akan belajar untuk melakukan analisis permasalahandengan berkolaborasi dengan team manajemen dan tetap berdasarkan 4 pradigma dilema etika, 3 prinsip dan 9 langka pengujian dalam pengambilan keputusan

4. Bagaiamana anda sendiriakan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan andalingkungan anda dan pada kolega guru guru anda? kapan anda menerapkannya?

yang akan saya lakukan tentunya akan belajar untuk melakukan pengambilan keputusan dengan menganalisis kasu yang terjadi berdasarkan 4 pradigma  dilema etika, 3 prinsip dan belajar untuk melakukan 9 langka pengujian dalam pengambilan keputusan. kapan akan saya lakukan? tentunya ketika saya diperhadapkan kasus, baik itu dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. dan saya akan memulai dari masalah masalah kecil yang saya hadapi dari sekarang.

 


Minggu, 09 Oktober 2022

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 2.3

 

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGU MODUL 2.3


Kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai post tes modul 2

1. Facts (Peristiwa)

Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3.a.3 mulai dari diri diana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervise di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapanpemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan ibu widiarti Rusmini melakukakan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Ibu Riry, saya, dan Ibu Widiarti Rusmini, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Bapak Alex Herry Assa membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Dan kemudian saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya dapati dan bagaimana dengan rencana dan Langkah ke depannya yang akan saya lakukan, selanjutnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervise akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada hari jumat, 7 oktober saya melakukan test akhir modul 2

2. Feelings (Perasaan)

Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.

3. Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervise akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, ada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2:yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat

4. Future (Penerapan)

Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat. permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.



KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 

A.     Pentingnya Proses Coaching  dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, berketuhanan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan juga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, semua upaya yang dilakukan dalam konteks pendidikan bukan hanya harus direncanakan dengan cermat, tetapi juga harus ditujukan untuk pengembangan potensi peserta didik. 

Standar proses telah secara jelas mendeskripsikan kriteria pelaksanaan pembelajaran yang harus dipertimbangkan oleh pendidik dan sekolah beserta prinsip-prinsipnya. Semua praktik pembelajaran tersebut harus merupakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik, yaitu pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam, pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik serta pembelajaran yang dapat membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan peserta didik dalam mencari solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dengan berdasarkan prinsip coaching.

B.     Pengertian Coaching dan Relevasinya dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee. Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif, Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman.

Hal ini sejalan dengan pemikiran sang Maestro Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara (KHD) dimana menurutnya pendidikan itu adalah ada proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

C.     Peran Guru dalam Coaching

Peran Guru sebagai coaching hendaknya tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif, menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik dengan kekuatan yang dimilikinya.

D.    Konektivitas Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional.

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan peserta didik dan sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, pendidik dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran agar dapat ke semua tahapan proses tersebut, sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar murid-murid dan membantu kesuksesan belajar mereka. Selain itu, proses pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian yang baik.

          Selain mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang dapat merespon kebutuhan belajar murid agar murid dapat mencapai tujuan pembelajaran melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai pendidik tentu harus berupaya menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik.

Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) ini semakin mendesak untuk kita terapkan dan praktikkan karena pentingnya perkembangan murid secara holistik, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Sebagai pendidik yang mendampingi peserta didik di sekolah sepanjang hari, maka sudah sepatutnya pendidik memikirkan bagaimana menuntun peserta didik untuk mencapai kodratnya, bagaimana membimbing peserta didik agar dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya dengan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Di sinilah letak urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik.

         Pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Sebagai seorang pendidik tentu harus mampu membawa komunikasi yang empati dan memberdayakan diri sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan strategi yang mampu menggerakkan komunitas sekolah pada ekosistem belajar. perubahan strategi yang sejalan dengan semangat merdeka belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum yang bermakna dan kualitas sumberdaya pendidik dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid di sekolah.

Seorang pendidik harus memahami konsep yang sejalan dengan pemikiran filosofis pendidikan Ki hajar Dewantara dan perkembangan pendidikan abad ke 21. Pendidik harus menguatkan paradigma berpikir among, prinsip coaching, kompetensi inti coating, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Dengan mempelajari dan mempraktikkan beberapa latihan percakapan berbasis coaching baik terhadap murid maupun rekan sejawat dapat menguatkan perjalanan pembelajaran pendidik menjadi seorang pemimpin pembelajaran. 

          Selama menjadi pendidik tentu dalam proses pembelajaran pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik sebagaimana tertuang dalam standar proses pada standar nasional pendidikan.  Supervisi akademik yang dijalankan semestinya harus benar-benar berfokus pada proses pembelajaran. Selain, itu, supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri seorang pendidik di sekolah. 

          Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri pendidik. Pemimpin sekolah dapat mendorong warga sekolahnya untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakkan pada murid adalah  pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.